Sebab Khotbah Agama Semakin Tak Laku

Selama manusia hidup, selama itu pulalah dia mendengarkan ceramah agama di manapun dan melalui media apapun. Bisa dari media digital, dari forum forum ceramah, bahkan dari lingkungan sekitar. Dan dari awal kemunculan agama, topiknya tidak pernah berubah, itu, itu, dan itu lagi. Begitupun dari sisi metode dan konsep ceramah agama, monoton dan membosankan. Sampai sampai orang yang mendengar berkata " ya gue udah tau.". Dan hal semacam itu, diturunkan dari generasi ke generasi.

Pada dasarnya salah satu sifat manusia itu mudah bosan terhadap apapun, manusia akan selalu lebih tertarik pada hal hal baru, termasuk pada isi dan metode ceramah. Dari sini maka munculah penceramah penceramah karbitan yang mampu menampilkan isi dan metode ceramah agama dengan gaya baru. Ada ceramah lucu, ceramah sedih, bahkan ada ceramah keras.

Untuk menjadi penceramah gaya baru ini, tidak perlu harus paham agama secara keilmuan, hapal beberapa ayat saja sudah bisa berceramah, itulah kenapa saya sebut karbitan. Bahkan seorang mualaf yang belum tahu banyak tentang agama barunya pun, bisa menceramahi mereka yang sudah memeluk islam dari orok, lebih dari itu bahkan sampai di undang dan di bayar. luar biasa bukan.!?

Tentu saja luar biasa, luar biasa gila. Dimana penikmat ceramah sekarang ini sudah tak peduli lagi dengan ceramah konvensional biasa, tentang keilmuan, yang terpenting si penceramah mampu membuat pendengarnya selalu tertawa, pandai meraih simpati atas kelemahan, ketidak berdayaan dan ketidak mampuan objek pembahasan, juga mampu memfasilitasi emosi yang selama ini dipendam pendengarnya.

Makanya penceramah karbitan macam alm Maheer, gus nur, yahya waloni, kace, bahar, dan semacamnya, lebih populer dan lebih laku, ketimbang penceramah penceramah yang kaya akan kajian dan paham akan khazanah Agama macam Romo Magnis, atau Quraish Shihab.

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.