Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Pertanian Ramah Lingkungan dalam Khazanah Sunda: Belajar dari Leluhur untuk Masa Depan

Di tengah tantangan krisis iklim dan degradasi lingkungan saat ini, gagasan tentang pertanian berkelanjutan semakin relevan. Sebenarnya, nenek moyang kita telah mempraktikkan konsep ini sejak lama, salah satunya adalah masyarakat Sunda. Mereka memiliki kearifan lokal yang mendalam dan terintegrasi dengan alam, tercermin dalam sistem pertaniannya yang dikenal sebagai tatanen panca usaha atau tatanen salapan rupa.

Sistem Pertanian Ramah Lingkungan Budaya Sunda

Sistem ini bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan sebuah filosofi hidup yang memandang alam sebagai guru dan mitra. Ini adalah wujud nyata dari pepatah Sunda, "gunung ulah dilebur, leuweung ulah dirusak, cai ulah disalin" (gunung jangan dihancurkan, hutan jangan dirusak, air jangan dipindahkan). Prinsip-prinsip ini menjadi landasan bagi praktik pertanian yang selaras dengan alam.

Prinsip Dasar dan Praktik Khas

Sistem pertanian tradisional Sunda tidak mengandalkan bahan kimia sintetis. Sebaliknya, mereka memanfaatkan kekayaan alam secara cerdas dan menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa ciri khasnya meliputi:

1. Tumpang Sari dan Pertanian Multikultur

Berbeda dengan monokultur (satu jenis tanaman) yang mendominasi pertanian modern, masyarakat Sunda mempraktikkan tumpang sari atau campur sari. Mereka menanam berbagai jenis tanaman pangan, seperti padi, jagung, umbi-umbian, dan sayuran, dalam satu lahan. Ini memiliki beberapa manfaat:
* Mengurangi risiko gagal panen: Jika satu jenis tanaman gagal, masih ada yang lain.
* Mencegah serangan hama dan penyakit: Keanekaragaman tanaman membingungkan hama dan mengurangi penyebarannya.
* Meningkatkan kesuburan tanah: Setiap tanaman memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda, sehingga mereka saling melengkapi. Contohnya, tanaman kacang-kacangan dapat mengikat nitrogen dari udara untuk menyuburkan tanah.

2. Pengolahan Lahan Tanpa Pembakaran

Masyarakat Sunda sangat menjaga kesuburan tanah. Mereka menghindari pembakaran lahan ("ngahuru" atau "ngabar-ngabar"), karena praktik ini dapat membunuh mikroorganisme yang penting bagi tanah dan menyebabkan erosi. Sebagai gantinya, mereka membiarkan sisa-sisa tanaman membusuk secara alami untuk menjadi kompos yang menyuburkan tanah.

3. Pengelolaan Air yang Bijaksana

Sistem subak atau irigasi tradisional di masyarakat Sunda adalah contoh nyata pengelolaan air yang adil dan efisien. Air dialirkan secara bergiliran melalui sistem kanal yang dikelola secara komunal, memastikan setiap petani mendapatkan bagiannya. Selain itu, mereka menjaga sumber mata air dan hutan di sekitarnya sebagai "penampung" air alami.

4. Pemanfaatan Pupuk Alami

Pupuk yang digunakan berasal dari alam, seperti kotoran hewan ternak, sisa tanaman, dan kompos. Ini tidak hanya menyuburkan tanah tetapi juga menjaga kualitas air dan tidak merusak ekosistem di sekitarnya.

Warisan Leluhur untuk Masa Depan

Praktik-praktik pertanian tradisional Sunda ini adalah bukti bahwa manusia dapat hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya. Kearifan lokal ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga memberikan solusi untuk masa depan.

Dengan mempelajari kembali sistem pertanian ramah lingkungan menurut khazanah Sunda, kita bisa menemukan model yang lebih berkelanjutan. Ini adalah pengingat bahwa pangan yang kita makan, tanah yang kita pijak, dan air yang kita minum adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melestarikan alam berarti melestarikan kehidupan itu sendiri.

Post a Comment for "Sistem Pertanian Ramah Lingkungan dalam Khazanah Sunda: Belajar dari Leluhur untuk Masa Depan"