Tak perlulah saya jelaskan secara rinci berapa penghasilan saya perbulan, atau berapa THR yang saya dapatkan lebaran tahun ini, bikin malu. Yang jelas saya tidak mampu untuk mudik tahun ini, sama dengan 3 tahun sebelumnya, yang tidak bisa mudik karena virus Corona. Padahal situasinya sama, ada corona atau tidak saya tidak bisa mudik. Jadi masalahnya jelas ya..
Dalam hati ingin sekali rasanya merampok bank, agar saya punya banyak duit dan bisa membawa istri serta kedua anak saya pulang ke kampung halaman. Lalu menunjukan pada tetangga, pada saudara dan kerabat, kalau tidak sia sia saya merantau. Saya ingin menunjukan pada mereka kalau saya berhasil menaklukan kota besar. Tidak peduli walau kontrakan belum dibayar, atau biaya ujian anak belum lunas, yang penting saya bisa menyewa mobil pribadi untuk di pamerkan didepan rumah.
Karena pada dasarnya, mudik lebaran itu tidak ada hubunganya dengan religiulitsa setelah lulus melaksanakan ibadah puasa selama 30hari. Tapi hanya budaya silaturahmi basa basi sambil memamerkan keberhasilan di perantauan. Itu point pentingnya, yaitu adu gengsi secara berjamaah. Itu sebabnya disaat bulan Ramadan, tensi kejahatan semakin meningkat.
Namun ini hanyalah curhatan, atau tepatnya alasan agar saya tidak disebut sudah lulus jadi manusia gagal. Karena terus terang saja, saya tidak menemukan alasan yang tepat saat mertua bertanya
Kenapa kamu tidak pulang ?, abah kangen sama cucu..
Maafkan saya bah, ditempat saya masih ada corona, jadi lockdown, gak bisa kemana mana. Mudah mudahan mertua tidak tahu, kalau saya sedang menipunya.
