2 Jenis Umat Muslim Dalam Al Qur'an

Al qur'an adalah kitab suci umat Islam yang wajib di yakini sebagai kitab yang kebenaranya absolute. Baik dari sisi hukum, sisi cerita, dan yang lainya. Namun masalahnya, seperti kitab kitab lain, bahasa yang digunakan dalam Al qur'an adalah bahasa arab kuno. Prof Sumanto Al qurtubi bahkan pernah mengatakan bahwa bahasa Qur'an itu berbeda dengan Bahasa orang Arab sehari hari.

Intinya, untuk mengartikan bahasa Qur'an itu tidak mudah. Apa lagi jika mengacu pada arti ayat yang sesuai konteks, sesuai dengan wahyu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad. Disinilah awal mula rancunya penafsiran tentang ayat Qur'an. Apa lagi jika Qur'an di alih bahasakan ke bahasa yang relatif masih muda seperti bahasa Indonesia. Tentu akan sangat sulit menemukan padanan kata yang sesuai untuk Bahasa Qur'an.

Namun kali ini saya tidak sedang membahas masalah itu, yang akan saya bahas adalah 2 jenis umat Islam yang disebut dalam Qur'an.

Pertama, kosa kata yang paling banyak disebut dalam Qur'an ditujukan untuk orang yang beriman. Atau Al imanu dengan variasinya. Yaitu golongan umat muslim yang beriman, kebanyakan adalah golongan akar rumput yang paham islam dari katanya orang.

Iman secara bahasa berarti percaya dan yakin. Ini menyangkut masalah hati, karena percaya dan yakin adalah pekerjaan rasa dan perasaan. Konteksnya dalam Islam tentu percaya dan yakin terhadap kebenaran Islam yang mengerucut pada hukum iman.

Itulah sebabnya kenapa Agama disebut sebagai keyakinan. Karena ruang lingkup agama memang hanya sebatas didalam hati. Orang bebas meyakini apapun dan tidak meyakini apapun. Orang bisa yakin Islam itu benar dan yang lainya salah, orang bisa yakin Kristen itu benar dan Islam itu salah. Namun saat keyakinan, dipaksakan keluar dari hati, misalnya dipakai untuk berpolitik, atau dipakai untuk menilai agama lain sesat, maka akan berbenturan dengan pembuktian.

Nah.. dalam rangka pembuktian inilah kenapa orang beriman bisa menjadi goblok. Lebih dari itu bahkan bisa saling serang dan saling bacok. Karena apa,? karena mereka menggunakan ukuran kebenaranya menurut keyakinannya masing masing. Dan tentu sampai kiamat pun tidak akan pernah menemukan kesamaan diantara keduanya, apa lagi menemukan kebenaran secara universal.

Oleh sebab itu perang antar agama, saling bunuh, saling hina, saling caci maki, terorisme, fanatisme,  kebanyakan pelakunya adalah orang beriman. Dalam agama apapun.

Yang kedua, umat Islam yang sering disebut dalam Qur'an adalah Orang Yang Berpikir. Biasanya ini ditujukan untuk golongan mukmin kelas elit macam ulama, ustadz, dan sebagainya. Mereka adalah para cendikiawan muslim yang banyak mempelajari literatur islam dari berbagai sisi. Mereka cenderung biasa saja, tidak terlalu banyak bicara walaupun ilmu agamanya banyak.

Namun karena Agama adalah sebuah keyakinan, orang yang lebih banyak menyikapi agama dengan berpikir, akan mudah sekali tergelincir. Dan pilihan yang utama dalam benak mereka adalah tidak beragama atau Ateis, karena bagi mereka semua agama itu sama saja. Sama sama tak masuk akal. Apa lagi jika dia menyaksikan kegoblokan kaum beriman dalam bersikap terhadap keyakinan lainya.

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.