Penyebab Bansos Pemerintah Tidak Tepat Sasaran

Bansos, BLT,

Butuh kerja sama yang luar biasa dari berbagai pihak jika ingin Bantuan Sosial atau bansos yang digelontorkan pemerintah untuk warga yang terdampak covid tepat sasaran. Terutama dari para pejabat pemerintah tingkat atas sampai bawah yang diberi kewenangan untuk menyalurkannya. Jangan sampai kejadian nyangkutnya dana bansos di saku kementerian tahun lalu, menjadi preseden buruk dimata rakyat. Yang akibatnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah semakin berkurang.

Budaya Korupsi

Memang bancakan duit negara itu sudah membudaya di negeri ini, istilah "paciwit ciwit lutung" sudah menjadi hal yang lumrah. Mulai dari tingkat menteri sampai RT, yang akhirnya bantuan dari pemerintah yang tidak seberapa tersebut bahkan tidak sampai kepada yang berhak menerimanya. Tidak semua begitu memang, tapi rata rata memang begitu.

Rancunya Adminstrasi

Jumlah penduduk negeri ini sangatlah besar, 270 juta lebih penduduk. Dengan banyaknya populasi di negeri ini, masalah pendataan juga menjadi salah satu penyebab tidak efektifnya bantuan sosial dari negara. Perlu waktu, kecermatan, dan profesionalisme tinggi. Apa lagi dimasa pandemi, semua pihak dituntut untuk kerja cepat dan kerja tepat. Namun masalahnya, negara kita tidak punya sumber daya itu. Maka tidak heran jika kita masih bisa menemukan kasus pembagian bansos yang salah sasaran.

Ada kasus orang meninggal terdaftar sebagai penerima bansos, sementara yang hidup tidak. Ada seorang pemilik toko kelontong besar terdaftar, sementara tukang becak tidak. Ada orang yang masih mampu bekerja, mendapat bansos, sementara seorang janda tua tidak, dan masih banyak lagi kasus lainya yang seperti itu.

Sumber Daya Manusia (SDM)

Bila dibandingkan dengan Singapura, sumber daya manusia di negara kita itu memang amatlah rendah. Di Indonesia, kita masih bisa melihat orang yang membuang sampah tanpa merasa bersalah setiap hari, bahkan setiap saat. Di Indonesia, kita masih bisa melihat maling yang tidak merasa punya dosa. Bahkan di negeri ini, ada petugas yang mendata penerima bansos hanya menulis keluarga, kerabat, dan kenalanya saja.

Lebih gila lagi, ada orang yang menyodorka data penerima bansos dengan cara mengkhayal dan asal tulis, alias data fiktif. Saat ketahuan alasanya karena waktu pendataan terlalu pendek dan terlalu mendesak. Kalau tidak ketahuan, ya Alhamdulillah... Haha..

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.