Sebab Saya Tidak Membahas Mural Jokowi


Entah kenapa, saya merasa derajat saya langsung terjun saat ngomongin masalah mural yang sekarang sedang ramai di bicarakan orang di medsos. Toh esensinya sama saja, mau tulisan, mau meme, ataupun mural. Yang membedakan cuma medianya.

Kenapa saya sebut turun derajat.!?

Ya.. karena mural yang mereka buat itu cuma buat gaya gaya-an saja, Tidak mewakili kritikan ataupun seni, tapi kayak orang lempar batu sembunyi tangan. Kasarnya saya malas membicarakan mural walau sedang viral, karena dibuat oleh pengecut yang kurang perhatian.

Yang penting disini adalah memahami esensinya.. Mau pake tulisan, meme atau mural, kalau sifatnya menghina, mencaci maki, ya terima akibatnya, negara kita itu negara hukum. Kalau mau mengkritik ya, mengkritiklah dengan cara elegan apapun medianya. Pake data dan fakta tentang materi kritikan, yang penting tidak melanggar hukum dan berbenturan dengan hak manusia lain.

Namun yang terpenting adalah pertanggung jawaban. Bagai mana saya bisa membahas isi sebuah mural yang tidak jelas asal usulnya. Apa maksudnya, dan apa tujuanya ?
Ini sama dengan istilah Matinya Sang Pengarang, yang tersisa hanya tulisan dan gambar mati. Yang membaca dan yang melihatnyalah yang menghidupkanya. Derajatnya sama dengan permen karet, bisa ditarik ulur sesuai penafsiran dan keinginan para pembacanya.

Makanya saya kadang sebel juga saat ada seseorang menulis, tapi kalau dikejar apa esensinya, malah clingak clinguk. Itu artinya dia nggak paham dengan apa yang dia tulis. Kasarnya mereka itu cuma ikut-ikutan atau mengcopy ide orang agar dianggap pintar. Membangun citra diri dengan cara goblok.

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.