Saat Kadrun Politisasi Mural

Membuat mural itu bagus, bisa mengembangkan daya kreatifitas manusia. Apalagi jika esensi mural itu sesuai dengan kenyataan yang ada. Contohnya lihat saja mural pada gambar dibawah ini, sangat bagus karena sesuai dengan konteks yang ada, pesannya begitu mengena.


Jaman perang penjajahan dulu, nenek moyang kita juga gemar membuat mural dengan pesan pembangkit perjuangan, seperti mural; habisi musuh, pantang menyerah, esensinya sesuai dengan konteks yang ada. 

Lalu apakah mural yang banyak menjamur belakangan ini dan begitu di puja puji oleh oleh kadrun, esensinya sesuai konteks yang ada.!? Jawabanya tentu saja tidak. Karena semua mural yang dibuat hanya berdasar dari angan angan dan emosi. Cuma sekedar gaya gayaan dan ikut ikutan. Mengekspresikan diri dengan cara goblok. 

Makanya mural yang biasa berkonotasi bagus, menjadi buruk saat dibuat oleh kadrun.
Ini sama dengan pesan AHY yang mengatakan " Anak muda jangan diberikan karpet merah". Pesan ini sangat bagus, namun jadi lucu saat AHY yang mengatakanya.

Contoh lain seperti ceramah Aa Gym tentang kesetiaan terhadap pasangan, ceramah yang sangat bagus, namun hanya jadi bahan cemoohan karena Aa Gym sendiri malah kawin cerai terus. Dan mural menjadi puncak bahan ejekan yaitu saat kadrun mengeluarkan duit ratusan ribu untuk membeli cat, kuas, dan pilox, lalu membuat mural Kami Lapar.
Lapar Gundul mu...!!
Haha...

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.