Taohids

Karna: Anak yg Dibuang

Arjuna Kena Hoax Dorna

Sosok yang tidak di inginkan

Karna dari Awangga, adalah sosok kesatria paling tragis dalam kisah epik Mahabharata. Namun disini, saya akan merangkum kisah Karna bukan hanya dari versi Mahabarata asal India saja, saya juga akan menggali kisah Karna dari Mahabarata versi Jawa. 

Kelahiran

Setelah melahirkan, Dewi Kunti membuang Karna karena alasan yang sangat egois dan dipicu ketakutan luar biasa akan status sosial, Hamil di Luar Nikah.

Saat masih muda, Kunti mencoba mantra pemberian Resi Durwasa untuk memanggil dewa. Ia memanggil Dewa Surya. Ternyata dewa tersebut benar-benar datang dan Kunti pun hamil.

Karena saat itu ia belum menikah, memiliki anak dianggap sebagai aib besar yang akan menghancurkan nama baik keluarga dan martabatnya sebagai putri raja.

Karena takut dihujat masyarakat dan dibuang oleh keluarganya, Kunti memutuskan untuk menyembunyikan kelahirannya.
Begitu Karna lahir (lengkap dengan baju zirah dan anting sakti pemberian Dewa Surya), Kunti menaruhnya di dalam keranjang dan menghanyutkannya ke sungai Gangga.

Bagi Kunti, Karna adalah "kesalahan masa muda". Ia baru mengakui Karna sebagai anaknya saat Karna sudah gugur di medan perang Baratayudha.

Penolakan dan Luka Harga Diri

Salah satu tokoh sentral dalam wiracarita Mahabharata, adalah guru Drona. dia dikenal sebagai guru besar seni militer dan ilmu pengetahuan bagi Pandawa dan Kurawa di Hastinapura. Ia adalah seorang Brahmana. Drona sangat ahli dalam penggunaan senjata sakti, dengan Arjuna sebagai murid kesayangannya.

Saat beranjak dewasa, Karna pun sangat mengagumi Guru Drona, hingga besar sekali keinginannya untuk bisa menjadi murid dan belajar ilmu memanah dari sang resi. 

Tapi sama seperti nasib Bambang Ekalaya, Karna di tolak mentah mentah oleh Drona saat Karna mengutarakan ingin belajar dan ingin menjadi muridnya.

Dalam cerita Mahabharata versi Jawa, Drona menolak Karna karena status sosialnya. Dimana saat itu Karna dikenal sebagai anak Adirata, tukang kusir kerajaan Astina.  Drona berprinsip mengajarkan ilmunya pada seseorang dari kasta sosial yang lebih rendah, di anggap melanggar norma moral saat itu. 

Padahal aslinya drona pernah bersumpah, ilmunya hanya akan di turunkan kepada kaum kesatria, pangeran dan bangsawan dari kerajaan Hastinapura. 

Namun menurut Kitab Mahabharata versi india, Drona sebenarnya tidak menolak Karna. Karna sempat jadi muridnya.
Hanya saja saat Karna meminta di ajarkan mantra tingkat tinggi, yaitu Brahmastra, guru Drona menolaknya dengan keras. 

Drona saat itu punya ambisi untuk menjadikan Arjuna pemanah terbaik di dunia. Ia khawatir jika mantra itu di ajarkan pada Karna yang punya bakat luar biasa, bisa mengancam posisi arjuna sebagai pemanah kelas wahid.

Bila Bambang Ekalaya membuat patung batu berbentuk guru dorna, lalu berlatih memenah seolah olah di perhatikan oleh guru Drona, beda dengan cara Karna. 

Karna menyamar jadi Brahmana, lalu berguru pada Resi Parasurama yang juga gurunya Drona. Karna menyamar jadi Brahmana karena dia tahu, resi Parasurama tidak mau mengangkat murid dari kaum kesatria apa lagi sekelas anak kusir.

« Postingan Lama