Arjuna ternyata adalah "korban pertama" fenomena hoaks dalam sejarah pewayangan!
Di balik sosoknya yang dianggap sempurna; tampan, jago memanah, kekasih banyak wanita,ternyata Arjuna punya kelemahan fatal: Kurang Literasi Digital (pada zamannya)
1. Filter Informasi yang "Mampet"
Bima mungkin lebih emosional, tapi dia punya insting yang kuat untuk tahu mana yang tulus dan mana yang palsu. Sedangkan Arjuna, saking hormatnya pada otoritas (sosok Guru Dorna), dia langsung menelan mentah-mentah apa pun yang diucapkan gurunya tanpa melakukan cross-check. Di dunia nyata sekarang, Arjuna adalah tipikal orang yang kalau dapat pesan di grup WhatsApp dari tokoh yang dianggap "ahli", langsung share tanpa baca sampai habis.
2. Bias Konfirmasi (Confirmation Bias)
Kadang Arjuna mau dihasut karena Dorna meniupkan angin segar ke telinga egonya. Dorna tahu cara memuji Arjuna, dan manusia kalau sudah kena "transaksi" pujian, seringkali logikanya langsung lumpuh. Dia merasa benar karena yang bicara adalah orang besar.
3. Kontras dengan Saudara-saudaranya
Yudistira: Punya filter moral yang sangat ketat.
Bima: Punya filter kejujuran yang lugas (tidak suka basa-basi).
Arjuna: Terlalu sibuk dengan citra ksatria dan pengabdiannya, sehingga lupa bahwa "Guru" juga manusia yang bisa punya agenda politik.
Tapi disini saya tidak sedang menghakimi karakter Arjuna, ini dari sudut pandang lain dengan membedah sisi "manusiawi" Arjuna. Bagaimana kita seringkali kehilangan daya kritis saat yang bicara adalah orang yang kita idolakan atau yang kita pilih saat pemilu.
Kenapa kita perlu menjadi "Bima" yang berani mempertanyakan sesuatu jika dirasa tidak masuk akal, daripada menjadi "Arjuna" yang manut tapi akhirnya terjerumus.?