Pro kontra program Makanan Bergizi Gratis pemerintahan Prabowo ini tidak terjadi hanya di dalam negeri saja, pihak luar pun ada yang merasakan dampak negatif karena program ini.
Sebut saja misal Australia. Ekspor pangan dari negara ini terganggu. Ekspor sapi hidup dan susu yang biasanya ke Indonesia sekarang bergeser ke Brazil. Ini dampak dari pintu impor yang di persempit, apa lagi jika program KOPDES atau koperasi desa sudah berjalan dengan baik, Distribusi bahan pangan MBG akan melalui KOPDES yang menyerap semua bahan dari petani dan peternak kita sendiri.
Psikologis & Polarisasi Politik
Ini terjadi di dalam negeri, dimana polarisasi politik berbasis psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas penolakan program MBG ini. Yaitu mengakarnya rasa benci terhadap pemerintah, khususnya executif..Ya namanya juga orang sudah benci, jangankan lihat orangnya, lihat sendalnya saja pengen membuang.
Including dengan orang yang menerima MBG karena suka pada pemerintah. Dasarnya sama sama emosi. Dan ini sangat tidak sehat.
Sudut Pandang Masyarakat Kurang Mampu (Berbasis Realita)
Tapi ditengah riuhnya hiruk pikuk penolakan MBG, ada pula yang merasa terbantu dengan program MBG ini. Terutama dari kalangan tidak mampu seperti saya.
Saya ini kurang mampu untuk menyediakan daging, sayuran, atau buah buahan untuk pertumbuhan anak tiap hari. dengan adanya MBG, masalah gizi untuk anak cukup teratasi. Dasarnya realita yang saya rasakan langsung.
Evaluasi Tata Kelola: Tantangan Adaptasi dan Mentalitas
Program Makan Bergizi Gratis itu lahir dimasa kepemimpinan Presiden Prabowo. Artinya program ini baru lahir, secara administrasi, pengelolaan, pendistribusian, dan sebagainya, masih dalam tahap adaptasi. belum 100%, jika pada bayi, mungkin masih belajar "ngasrod" kalau dalam bahasa Sunda. Jadi dampak yang ada sekarang itu belum bisa dinilai gagal atau berhasil.
Belum lagi masalah mental koruptif, Adaptasi program baru yang diuji oleh celah birokrasi dan potensi mental koruptif di berbagai lini, ini tantangan besar buat pemerintah. Tidak mudah memang, tapi ini harus dilakukan. Dihadapi dan di atasi. Namun yang penting adalah Kesadaran kolektif diperlukan untuk mengawasi berjalannya program publik ini.
Peluang dan Risiko Operasional
Selain membantu gizi anak, program ini berpotensi besar menggerakkan ekonomi kerakyatan jika rantai pasoknya (supply chain) melibatkan petani lokal, peternak lokal, dan UMKM/Koperasi di sekitar wilayah sekolah. Pasar bagi produk pertanian rakyat menjadi punya kepastian penyerapan.
Untuk jangka panjang MBG tidak hanya memberi makan, tetapi juga mendidik anak-anak dan orang tua mengenai pentingnya standar gizi seimbang (karbohidrat, protein hewani/nabati, sayur, buah) yang mungkin sebelumnya kurang menjadi prioritas dalam pola konsumsi keluarga.
Namun hal ini juga harus di waspadai, yaitu Resiko Kesehatan (Keamanan Pangan / Food Safety). Dengan volume distribusi yang masif dan melibatkan banyak dapur atau pihak ketiga, potensi risiko keracunan makanan (food poisoning) akibat kualitas bahan baku yang menurun di jalan atau higienitas yang kurang terjaga menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi secara ketat.
Belum lagi masalah Beban Logistik & Infrastruktur di Daerah Tertinggal. Praktik di kota besar mungkin relatif mudah, namun tantangan distribusi ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) sangat tinggi. Ada risiko makanan rusak sebelum sampai, atau biaya logistik yang justru membengkak tidak sesuai proyeksi awal.
Kesimpulan
Program MBG tidak bisa dinilai hanya dengan hitam atau putih. Ada harapan besar bagi masa depan gizi anak bangsa di satu sisi, namun ada pula PR besar berupa tata kelola dan pengawasan yang ketat di sisi lain. Seyogianya Mahasiswa atau masyarakat berada di sisi itu. Menolak balita yang baru belajar merangkak karena tidak bisa berlari itu bukan cerminan pola pikir akademisi dan intelektual. Masa kalah sama saya yang lulusan SMP.?
Maka jangan heran jika Mahasiswa yang berdemo menuntut agar MBG di hentikan, disebutnya MAHASEWA atau mahasiswa yang di bayar demi kepentingan pihak tertentu. TIDAK perlu kuliah untuk memahami pemetaan seperti ini.