Maju Mundur Syantik Anies Baswedan

Posisi Formula E Anies Baswedan saat ini  bagai makan buah simalakama, dilanjut bakalan buntung, gak dilanjut mau ditaro dimana muka nya..
Dimasa pandemi yang entah sampai kapan berakhir, saya sebagai rakyat kecil tentu bertanya-tanya, apa urgensi formula e bagi kami kami ini..!?
Sementara Pak Gubernur sampai mati matian  berupaya agar pagelaran balap mobil listrik ini bisa terwujud.

Selama ini, apapun kebijakan Anies nyaris gak ada yang beres. Contoh kecilnya masalah trotoar, sudah dibangun, dibongkar lagi. Terus ada lagi keputusan yang di anulir seperti saat memberikan penghargaan pada sebuah diskotik atau saat mengangkat dirut transjakarta yang ternyata statusnya masih tersandung hukum. Itu artinya, Pak Anies ini gak pandai mengkalkulasi dan tidak mempunyai perencanaan yang matang terhadap kebijakanya. Walaupun pak anies sudah punya puluhan TGUPP.

Berkaca dari yang sudah sudah, wajar bila banyak pihak yang mengasumsikan, kalaupun formula e ini jadi digelar, hasilnya tidak akan semanis apa yang sudah dikatakan anies. Apa lagi pandemi belum usai, urgensi formula e jelas jadi nomor sekian. Yang paling penting sekarang adalah bagai mana cara keluar dari jerat covid dan mengatasi dampaknya. Orang tentu akan lebih memikirkan bagai mana cara bertahan hidup dari pada membeli tiket untuk menonton balapan mobil listrik.

Daya tarik Formula E bagi orang Indonesia, itu apa.!? Penyelenggara orang luar, tim pembalap juga orang luar, pembalapnya juga gak ada orang Indonesia, mobilnya ya mobil buatan luar juga. Orang menonton sesuatu tentu karena daya tariknya. Sebut saja misalnya dalam motoGP ada valentino rossi, orang tentu akan tertarik menontonnya karena banyak yang ngefans sama rossi, atau sama raungan motornya, dan sebagainya. Sementara Formula E, pembalapnya saja masih belum banyak yang mengenal, karena ajang balapan ini memang masih baru. Makanya merk pabrikan top macam Mercedes, Audi, dan BMW bahkan sampai mengundurkan diri dari ajang ini.  Dari sini maka ditarik kesimpulan, kalau Formula e ini gak bakalan laku. Dan ini tentu akan menambah nilai minus bagi Anies.

 Untuk mewujudkan ambisi gubernur DKI ini, Jakarta sudah menghabiskan APBD sampai 1T lebih. Belum lagi kawasan monas yang sudah di acak acak, yang tadinya lahan hijau sekarang menjadi lahan beton. Pun, walau kawasan monas sudah dikorbankan, monas tetap tidak bisa dipakai untuk balapan formula e. Itu artinya jika anies tetep ngotot, dia harus membangun sirkuit baru. Dan untuk itu tentu dibutuhkan biaya lagi. Uang dari mana.!? Sementara APBD jakarta sampai saat ini defisit sampai 2T gara gara corona.

Dari uraian di atas sebetulnya tidak ada sedikitpun celah Formula e ini bisa terwujud. Saya yakin Anies bukan orang bodoh. Apa yang saya tulis di atas pasti sudah terpikirkan olehnya. Dan saya yakin beliaupun sadar bahwa ini bisa menjadi kuburan bagi kariernya.
Namun bukan Anies namanya kalau tidak cerdik bagaikan ular, eksistensi namanya untuk 2024 tetap harus dia jaga. Tak peduli walau harus di caci maki, yang penting gaung formula e harus tetap ada, caranya, menolak interpelasi misalnya.. 

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.