Sebab Saya Tobat Dari Demokrat


Terus terang, saya dulu adalah penggemar berat Partai Demokrat. Istri saya (yang dilingkari merah) bahkan bisa berjarak kurang dari 30 cm dengan AHY, sementara saya berdiri dibelakang kamera. Tapi itu dulu, saat Pak SBY masih berkuasa.

Saya jadi teringat sebuah quote sederhana dari Abraham Lincoln, yang bunyinya kira kira seperti ini;
Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.
Dan kita semua tahu, kurang bagaimana hebat pak SBY memimpin negeri ini, beliau bahkan mampu menjadi orang nomor 1 di Indonesia selama 10 tahun atau dua periode jabatan sebagai presiden. Namun saat pak SBY menunjuk AHY menjadi ketum Partai Demokrat dengan segala lika likunya, rasa simpati saya perlahan mulai luntur.

Alasannya tentu tidak akan saya ungkap disini, karena semua orang tentu tahu bagaimana serunya drama Demokrat. Apa lagi saat ketum baru dan jajarannya mulai berani bersebrangan dengan pemerintah dalam hal apapun, terutama dalam masalah penanganan covid, rasa kagum saya langsung hilang.

Wabah ini adalah bencana nasional, bijaksananya kita semua harus saling bahu membahu membantu pemerintah dalam menanggulangi pendemi. Bukan hanya mengomentari kebijakan pemerintah dengan cara kekanak-kanakan.

Dan seandainya Demokrat mau memposisikan diri dengan benar, mau membantu pemerintah menangani pandemi ini secara nyata, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap Demokrat akan bertambah, dan Demokrat bisa merasakan kembali bagaimana rasanya jadi penguasa.

Tapi ya sudahlah..
Semua sudah terjadi, saya hanya merasa prihatin saja, melihat suara yang diperoleh eks partai penguasa yang pernah saya kagumi ini kian hari kian menurun.
Itulah resiko jika memilih pemimpin yang bukan ahlinya.

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.