Akibat Agama Berpolitik

Akibat Agama Berpolitik



Dulu banyak ulama ulama besar yang mengatakan "tidak boleh mencampur adukan agama dengan politik". Presiden Mesir bahkan berpendapat seperti itu. Tapi jika boleh berpendapat, saya tentu ada diposisi antara setuju dan tidak setuju.
Setujunya karena pemahaman dan praktek keduanya berbeda jauh. Sedang tidak setujunya karena dari segi pemahaman, semua berangkat menuju kebaikan. Agama adalah makanan rohani, sedang politik adalah makanan dunia. Kitab suci itu buku moral sedang kitab politik adalah buku peradaban. Intinya, politik tanpa agama jelas akan tanpa arah, sedang agama tanpa politik bisa saja agama yang akan hilang.
Itu dari sisi pemahaman.
Dan yang membuat saya setuju agar tidak mencampur adukan antara politik dan agama itu dari sisi praktek. Karena praktek keduanya sangat bertentangan. Praktek agama harus sesuai dengan rel yang sudah ditentukan, sedang praktek politik adalah berupaya dengan cara apapun agar meraih kemenangan. Kasarnya praktek politik itu bisa menghalalkan segala cara, walau harus berbenturan dengan agama sekakalipun.
Nah contoh praktek politik seperti itu sedang terjadi di Negeri ini. Dan dampaknya sangat buruk sekali, salah satunya adalah munculnya sekat sekat di antar masyarakat, lahirnya bahasa kadrun cebong ya karena ini, karena praktek politik.
Ada partai setan dan partai Tuhan, ada yang mempolitisi ayat, ada yang mempolitisi mayat, tidak mau menyalatkan mayat yang memilih si anu. Ada yang mempolitisi Tuhan, jika sianu kalah khawatir tidak ada lagi yang menyembah. Dan masih banyak lagi.
Namun yang paling absurd adalah mempolitisi mistisme (sufisme) Islam yang dilakukan seorang ustadz ternama. Efeknya sungguh sangat buruk sekali, baik bagi agama maupun bagi diri ustadz itu sendiri.
Siapakah dia..!?

Silahkan jawab dikolom komentar

Artikel Terkait

Buka Komentar

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.